Trending

PT. Nindiya Karya Bersama Danantara Indonesia Melaksanakan Proyek Penanganan Kawasan Pasca Bencana Di Kabupaten Aceh Selatan

Michael - Admin
Rabu, 12 Agustus 2026

PT. Nindiya Karya Bersama Danantara Indonesia Melaksanakan Proyek Penanganan Kawasan Pasca Bencana Di Kabupaten Aceh Selatan
Pemerintah

Katapoint.id - ACEH SELATAN — Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh, mempercepat penataan dan pemulihan kawasan terdampak bencana melalui pembangunan konektivitas jaringan drainase sepanjang 3,8 kilometer dengan total anggaran mencapai Rp 59 miliar.


Program yang dilaksanakan melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan Direktorat Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum yang dikoordinasikan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) kabupaten Aceh Selatan tersebut mencakup lima desa di tiga kecamatan. Pembangunan diarahkan untuk memperlancar aliran air, mengurangi risiko genangan, serta memperkuat ketahanan kawasan permukiman terhadap ancaman banjir.


Plt. Kepala Dinas PUPR Aceh Selatan, Skar Fharaby, ST., MT., mengatakan program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Bupati Aceh Selatan H. Mirwan, MS., SE., M.Sos. sekaligus hasil koordinasi pemerintah daerah dengan pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh.


Pembangunan konektivitas drainase dilakukan untuk memastikan saluran air di kawasan terdampak dapat terhubung dan berfungsi secara lebih optimal,” kata Skar Fharaby kepada media ini, Rabu (12/8/2026).


Menurutnya, persoalan drainase tidak hanya berkaitan dengan keberadaan saluran, tetapi juga konektor antarsaluran hingga menuju titik pembuangan. Jaringan yang tidak terkoneksi dengan baik dapat menyebabkan aliran air tidak berjalan optimal.


“Pembangunan konektivitas drainase ini untuk memperlancar aliran air dan mengurangi risiko banjir di kawasan permukiman masyarakat,” ujarnya.


Skar Fharaby menjelaskan, pembangunan sepanjang 3,8 kilometer tersebut merupakan bagian dari upaya membenahi infrastruktur dasar yang memiliki peran strategis dalam penataan kawasan pascabencana.


Konektivitas menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan drainase. Saluran yang berdiri sendiri tanpa terhubung dengan jaringan utama berpotensi membuat aliran air tidak optimal. Karena itu, penyambungan jaringan di sejumlah titik diarahkan agar sistem pengaliran air dapat bekerja sebagai satu kesatuan,” jelasnya.


Dengan cakupan lima desa di tiga kecamatan, pembangunan tersebut memiliki jangkauan pelayanan yang cukup luas. Infrastruktur tidak hanya diarahkan untuk menangani titik-titik genangan, tetapi juga memperbaiki sistem pengelolaan air di kawasan yang membutuhkan penanganan pascabencana.


Alokasi anggaran sebesar Rp59 miliar menunjukkan besarnya kebutuhan investasi untuk memperkuat infrastruktur dasar di kawasan yang memiliki kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi.


Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan genangan, keberadaan jaringan drainase dengan kapasitas dan konektivitas yang memadai diharapkan dapat memberikan dampak langsung terhadap aktivitas sehari-hari. Aliran air yang lebih lancar dapat membantu mengurangi potensi genangan di permukiman maupun fasilitas umum.


Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan menempatkan pembangunan tersebut sebagai bagian dari agenda pemulihan dan penataan kawasan terdampak bencana. Infrastruktur yang dibangun diharapkan tidak hanya menjawab persoalan aliran air saat ini, tetapi juga menjadi bagian dari langkah mitigasi menghadapi risiko banjir di masa mendatang.


Skar Fharaby menegaskan, pembangunan tetap disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing kawasan agar jaringan yang dibangun dapat berfungsi secara maksimal.


Pembangunan drainase dalam skala tersebut pada akhirnya tidak berhenti pada pekerjaan konstruksi. Keberhasilan sistem juga ditentukan oleh keterhubungan jaringan, kapasitas saluran, titik pembuangan, serta pemeliharaan setelah proyek selesai,” katanya.


Karena itu, ia menekankan pentingnya memastikan jaringan drainase yang telah dibangun tetap berfungsi dan bebas dari penyumbatan. Peran masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran juga dinilai penting agar infrastruktur yang dibangun dengan anggaran puluhan miliar rupiah tersebut dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.


Pembangunan drainase sepanjang 3,8 kilometer ini menjadi salah satu bagian dari agenda pemulihan infrastruktur Aceh Selatan pascabencana. Dengan investasi Rp59 miliar, pemerintah daerah berharap persoalan aliran air di kawasan sasaran dapat ditangani secara lebih terintegrasi sekaligus meningkatkan perlindungan terhadap permukiman masyarakat.


Lebih dari sekadar pembangunan fisik, konektivitas jaringan drainase diharapkan menjadi bagian dari strategi membangun kawasan yang lebih siap menghadapi ancaman banjir dan bencana hidrometeorologi, sekaligus mendukung proses pemulihan masyarakat Aceh Selatan.[]

Komentar
Baca juga
katapoint.id, All rights reserved. | Designed By Rifal Agustiar