Katapoint.id - Menanggapi pernyataan Tokoh Muda Nagan Raya, Rahmat Beutong, yang mengajak generasi muda untuk bersikap "logis dan berbasis data" dalam menyampaikan kritik, Restu Gilang, selaku Pemuda dan Pemerhati Politik Nagan Raya, memberikan catatan kritis dan teguran keras terhadap narasi tersebut. Kata Tokoh Muda Naga Raya, Restu Gilang, Selasa 18 Maret 2026.
Restu Gilang menilai bahwa himbauan yang tampak normatif tersebut berpotensi menjadi alat kontrol sosial yang menghambat spontanitas aspirasi masyarakat, di tengah mandulnya fungsi lembaga perwakilan rakyat di daerah.
"Pernyataan tersebut sepintas terlihat bijak, namun jika tidak hati-hati, narasi 'harus berbasis data' seringkali digunakan sebagai tameng atau barikade oleh pihak-pihak tertentu untuk mendiskreditkan kritik yang lahir dari keresahan nyata di lapangan," ujar Restu Gilang dalam keterangan tertulisnya hari ini.
Menurut Restu, ada empat poin krusial yang perlu digarisbawahi sebagai tanggapan atas pernyataan tersebut:
Kritik adalah Hak, Bukan Ujian Akademik: Restu menegaskan bahwa fungsi kritik dalam demokrasi adalah sebagai kontrol sosial. Rakyat, terutama pemuda, tidak wajib menyajikan data selevel riset akademis hanya untuk menyuarakan ketimpangan yang mereka rasakan sehari-hari.
DPRK Nagan Raya Disfungsional Sebagai Jembatan Aspirasi: "Bagaimana pemuda dituntut bicara data jika DPRK Nagan Raya sendiri saat ini disfungsional? Mereka gagal menjadi jembatan aspirasi. Masyarakat kesulitan mengetahui sejauh mana progres pengawasan kebijakan hingga realisasi janji-janji politik Pemerintah Daerah. Jika lembaga formalnya saja mandek, jangan salahkan jika pemuda bicara dengan cara mereka sendiri di jalanan atau media sosial," tegas Restu.
Transparansi Publik Pemkab yang Buruk: Restu menyoroti ketertutupan data di lingkungan Pemkab Nagan Raya. "Jangan menuntut data pada rakyat, sementara Pemerintah Kabupaten tidak cukup terbuka menyediakan akses informasi publik yang transparan. Ini adalah logika yang terbalik dan menyesatkan."
Potensi Pembungkaman Halus: Restu mengkhawatirkan standar "logis dan terukur" akan menjadi alasan bagi pemangku kebijakan untuk mengabaikan kritik yang tidak sesuai dengan standar mereka, sehingga suara-suara sumbang dari arus bawah dianggap sebagai 'angin lalu' atau hoaks semata.
Lebih lanjut, Restu Gilang mengajak seluruh elemen pemuda Nagan Raya untuk tidak gentar dalam bersuara. Menurutnya, kejujuran dalam melihat realitas sosial jauh lebih berharga daripada retorika yang terkesan 'tertib' namun mandul esensi.
"Logika itu penting, tapi nurani jauh lebih utama. Jangan sampai pemuda Nagan Raya kehilangan taringnya hanya karena takut kritiknya dianggap tidak 'ilmiah' oleh segelintir tokoh. Tugas pemuda adalah menjadi penyambung lidah rakyat, bukan menjadi humas kebijakan yang hanya bicara manis di permukaan. Jika DPRK tidak lagi bisa jadi tumpuan, maka pemudalah yang harus menjadi barisan terdepan pengingat kekuasaan," tutup Restu dengan tegas. Pungkasnya []