Trending

Rahasia Sederhana Menuju Keluarga Bahagia

Yong - Redaksi
Minggu, 12 April 2026

Rahasia Sederhana Menuju Keluarga Bahagia
Agama/Religi

48 views

Katapoint.id - ‎Pernikahan itu sering disangka cukup dengan sekali napas: “sah!” — lalu selesai. Padahal, setelah ijab qabul, justru dimulailah “episode panjang” yang kadang lebih seru dari sinetron, tapi tanpa iklan. Ada adegan romantis, ada juga episode “diam seribu bahasa” hanya gara-gara tutup odol tidak ditutup rapi.

. KUA Tapaktuan diadakan bimbingan perkawinan. Kegiatannya bukan sekadar formalitas agar foto buku nikah tampak rapi, tapi sebagai “bekal hidup” agar pasangan tidak kaget setelah menikah. Karena faktanya, yang sering membuat rumah tangga goyah itu bukan badai besar, tapi hal-hal kecil—seperti lupa bilang terima kasih, atau terlalu sering bilang “terserah” tapi dalam hati tidak benar-benar terserah. Kamis, 9 April 2026

‎Di sinilah pentingnya memahami bahwa pernikahan adalah mitsaqan ghalizha (perjanjian yang kokoh). Allah SWT berfirman:

‎“Dan mereka (para istri) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizha).” ‎(QS. An-Nisa: 21)

‎Artinya, pernikahan bukan kontrak biasa yang bisa dibatalkan hanya karena pasangan tidak suka sambal terlalu pedas atau terlalu manis. Ini adalah janji besar di hadapan Allah, yang perlu dirawat dengan kesabaran, keikhlasan, dan—kadang—sedikit humor agar tidak tegang terus.

‎Dalam Al-Qur’an juga ditegaskan tujuan pernikahan:

‎“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah).”**

‎(QS. Ar-Rum: 21)

‎Nah, kata “tenteram” ini penting. Rumah tangga itu bukan tempat lomba debat siapa yang paling benar. Kalau setiap masalah dibahas seperti sidang skripsi, lama-lama yang ada bukan sakinah, tapi “sidang berkepanjangan”.

‎Konsep “tepuk sakinah” yang diajarkan dalam bimbingan perkawinan itu sederhana tapi dalam:

‎* Berpasangan → artinya saling melengkapi, bukan saling mengalahkan

‎* Janji kokoh → bukan janji “aku berubah besok”, tapi berubah mulai sekarang

‎Saling cinta dan hormat → cinta tanpa hormat itu hambar, hormat tanpa cinta itu kaku

‎* Musyawarah untuk sakinah→ kalau ada masalah, duduk bersama, bukan saling update status sindiran di media sosial.

‎Rasulullah ﷺ Teladan luar biasa dalam rumah tangga. Beliau bersabda:

‎“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” ‎(HR. Tirmidzi)

‎Hadis ini menampar halus kita semua. Kadang di luar rumah kita ramah, senyum, sopan. Tapi di rumah? Nada suara berubah seperti sedang pidato darurat. Padahal ukuran terbaik seseorang justru bagaimana ia memperlakukan keluarganya.

‎Ada juga hadis yang mengingatkan tentang pentingnya sikap saling memahami:

‎“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Jika ia tidak menyukai satu sifat darinya, maka ia akan ridha terhadap sifat yang lain.” (HR. Muslim)*

‎Artinya, tidak ada pasangan yang sempurna. Kalau mencari yang sempurna, mungkin sampai hari tua masih sibuk “scroll calon” tanpa pernah menikah. Yang ada adalah pasangan yang saling menerima dan terus belajar menjadi lebih baik.

‎Akhirnya, pernikahan itu ibarat perjalanan panjang. Kadang jalannya mulus, kadang berlubang. Tapi selama ada komitmen, cinta, dan komunikasi, insyaAllah sampai tujuan dengan selamat.

‎Jadi, jangan bayangkan pernikahan itu hanya ijab qabul yang berlangsung beberapa menit. Yang lebih penting adalah “qabul” setiap hari menerima pasangan apa adanya, sambil terus berusaha menjadi versi terbaik diri sendiri.

‎Karena rumah tangga yang sakinah bukan yang tanpa masalah, tapi yang tahu cara menyelesaikan masala tanpa harus memanggil “wasit” dari pihak keluarga. []

‎Penulis: Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I

‎Penyuluh Agama Islam KUA Tapaktuan

Komentar
Baca juga
katapoint.id, All rights reserved. | Designed By Rifal Agustiar