Trending

DLH Wacanakan Pendamping Desa di Bidang Pengelolaan Sampah, Target Produksi Pupuk hingga Manggot

Redaksi - Admin
Rabu, 08 Juli 2026

DLH Wacanakan Pendamping Desa di Bidang Pengelolaan Sampah, Target Produksi Pupuk hingga Manggot
Daerah

Katapoint.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Aceh Selatan mewacanakan pemberdayaan pendamping desa sebagai ujung tombak pengelolaan sampah dari hulu. Wacana ini menjadi bagian dari strategi besar menyelesaikan persoalan sampah secara mandiri di tingkat desa, dengan mencakup berbagai aspek mulai dari pengolahan sampah organik, produksi pupuk dan maggot, hingga pengembangan aplikasi digital.

Kepala DLH Aceh Selatan, Kasputra ST.MM, menegaskan bahwa permasalahan sampah harus diselesaikan dari sumbernya, bukan hanya berfokus pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

"Permasalahan sampah mesti harus kita selesaikan dari hulu, bukan dari hilir atau dari TPA. Semua kita punya tanggung jawab masing-masing terhadap sampah dan lingkungan," ujar Kasputra saat di wawancara media ini, Rabu (8/7/2026).

DLH berencana merekrut dan memberdayakan pendamping desa yang bertugas mendampingi masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri. Pendamping ini akan menjadi fasilitator yang mengedukasi dan mengajarkan teknologi pengolahan sampah, bukan sekadar membebani desa dengan kewajiban.

"Nanti kita wacananya akan merekrut atau memberdayakan pendamping desa dalam hal pengelolaan sampah di tingkat desa. Kita harapkan target ke depan, setiap desa harus mampu mengolah sampah di tingkat desa secara mandiri," jelasnya.

Lebih lanjut, Kasputra memaparkan bahwa sampah terdiri dari tiga komponen, yaitu sampah organik, anorganik, dan residu. Komposisi sampah didominasi oleh limbah organik yang mencapai 70 persen, sementara sampah anorganik 20 persen, dan sampah residu (seperti popok sekali pakai/softex) 10 persen.

"Sampah organik lah yang membuat masalah. Dan apabila sampah tersebut bisa kita lakukan pengolahan di tingkat desa, maka persoalan besar akan selesai," tegasnya.

DLH menargetkan pada tahun ini akan mulai memproduksi pupuk organik dan maggot (larva lalat Black Soldier Fly) dari pengolahan sampah. Tahap awal akan dilakukan di TPA sebagai percontohan, sebelum nantinya teknologi ini diterapkan di desa-desa dengan bantuan pendamping.

"Di tahap awal di TPA, kita akan ada pengolahan sampah organik menjadi pupuk dan maggot. Target pada tahun ini berencana akan memproduksi pupuk organik beserta maggot dari pengolahan sampah," ujar Kasputra.

Begitupun, Kasputra juga menekankan bahwa masalah sampah berkaitan erat dengan kesehatan dan pendidikan. Lingkungan yang kumuh berpotensi memicu wabah penyakit yang akan mempengaruhi kesehatan dan pendidikan.

"Masalah sampah adalah masalah yang serius, masalah yang penting, dan lingkungan hidup, kesehatan, serta pendidikan tidak bisa dipisahkan. Kalau lingkungan hidup rusak dan kumuh, maka berdampak pada kesehatan masyarakat yang akan menjadi sebuah wabah penyakit dan tentunya juga berimbas kepada pendidikan," tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Kasputra menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan. Beserta kolaborasi semua pihak dan elemen masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan sampah tersebut. Menurutnya, perhatian besar dari Bupati menjadi modal penting dalam mewujudkan program pengelolaan sampah ini.

"Apalagi Pak Bupati dalam hal ini sangat mendukung dan besar perhatiannya terhadap lingkungan, dan juga kita berharap kepada semua pihak untuk berkolaborasi dan seluruh elemen masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam mengatasi permasalahan sampah di mulai dari tingkat desa," tutup Kasputra.[]

Komentar
Baca juga
katapoint.id, All rights reserved. | Designed By Rifal Agustiar