Katapoint.id | Tapaktuan – Wacana menjadikan kantin sekolah sebagai tempat produksi Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat tanggapan dari pengelola lapangan.
Asisten Lapangan SPPG Sawah Tingkeum, Kecamatan Bakongan Timur, Kab. Aceh Selatan. Umam Andika menegaskan, dapur produksi MBG paling tepat berada di SPPG, bukan di kantin sekolah.
Umam Andika merincikan ada 4 alasan Dapur MBG harus di SPPG, yakni yang pertama terkait Standar Keamanan Pangan Harus Ketat.
“Produksi makanan untuk ribuan siswa setiap hari itu bukan perkara sederhana. Butuh standar, sistem, dan pengawasan ketat. Karena itu dapurnya harus di SPPG, bukan di kantin sekolah,” ujar Umam Andika, Sawah Tingkeum, Kecamatan Bakongan Timur, Kab. Aceh Selatan. Jum'at, 11/09/2026.
Menurut Umam (Sapaan), dapur SPPG dibangun sesuai standar BGN. Ada area cold storage, pemisahan bahan mentah dan matang, tempat pencucian, ventilasi, sanitasi, dan pengelolaan limbah.
“Kalau di kantin sekolah, tidak semua punya fasilitas itu. Risiko kontaminasi, keracunan, dan masalah kebersihan jadi besar. Ini menyangkut kesehatan anak-anak,” jelasnya.
Yang kedua, lanjutnya, terkait Efisiensi dan Skala Produksi. 1 SPPG di Bakongan Timur dirancang untuk melayani belasan sekolah sekaligus.
“Lebih efisien membangun 1 dapur besar di SPPG dari pada memaksa 15 sekolah membangun 15 dapur kecil. Dari sisi anggaran, tenaga, dan pengawasan jauh lebih hemat kalau terpusat,” katanya.
Kemudian, alasan ketiga terkait tidak mengganggu proses belajar mengajar. Umam khawatir jika produksi dipindah ke sekolah akan menambah beban guru dan kepala sekolah.
“Sekolah tugasnya mendidik. Kalau disuruh ngurus belanja, masak, cuci, distribusi ribuan porsi, kapan ngajarnya? Jangan sampai MBG malah mengganggu KBM,” tegasnya.
Alasan keempat soal pengawasan lebih mudah dan profesional. Dengan sistem terpusat, pengawasan dari BGN, Dinas Kesehatan, dan BPOM bisa dilakukan di satu titik. Menu juga disusun oleh ahli gizi agar sesuai Angka Kecukupan Gizi.
“Di SPPG ada ahli gizi, ada SOP, ada pencatatan. Mutu dan gizi makanan bisa dijaga konsisten setiap hari,” ujarnya.
SPPG Juga Bisa Serap Ekonomi Lokal
Selain soal teknis, Umam Andika melihat SPPG juga punya peran penting dalam menggerakkan ekonomi desa. SPPG Aceh Selatan Bakongan Timur yang berlokasi di Desa Sawah Tingkeum berkomitmen menampung hasil petani lokal.
“Kebutuhan bahan pangan MBG setiap hari itu besar. Beras, sayur, telur, ikan. Ini bisa kita serap dari petani maupun UMKM Bakongan Timur dan sekitarnya. Jadi MBG bukan hanya mengenyangkan anak, tapi juga menghidupkan petani dan UMKM,” katanya.
Sekolah Tetap Punya Peran Penting!
Umam Andika menegaskan, pihaknya tidak bermaksud mengesampingkan sekolah. Sekolah tetap memegang peran vital dalam keberhasilan MBG.
“Sekolah tetap penting untuk memastikan makanan sampai ke anak tepat waktu, dalam kondisi baik, dan dimakan bersama-sama. Tapi untuk urusan produksi, serahkan ke fasilitas yang memang disiapkan untuk itu, yaitu SPPG,” katanya.
Harapan ke Pemerintah
Umam Andika berharap pemerintah daerah dan BGN tetap konsisten menjadikan SPPG sebagai pusat produksi MBG.
“Harapan kami, kebijakan MBG jangan setengah-setengah. Kalau mau berhasil dan aman, fokuskan di SPPG. Biar sekolah fokus mengajar, petani dapat pasar, dan anak-anak dapat makanan bergizi yang aman,” pungkasnya.
Relawan Dapur SPPG Bakongan Aceh Selatan Khawatir Kehilangan Pekerjaan jika MBG Dialihkan ke Sekolah
Baitul Mal Aceh Selatan Gelar Sosialisasi dan Publikasi Terkait Peningkatan Pengumpulan Zakat dan Infak
Serah Terima Sarana Air Bersih untuk Mendukung Pemulihan Masyarakat Terdampak Banjir di Aceh Selatan
Pertama di Barat Selatan Aceh, RSUD dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan Layani Pemasangan Ring Jantung Ditanggung BPJS