Refleksi tentang Iman, Ilmu, Adab, dan Kerendahan Hati dalam Kehidupan
Katapoint.id - Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW selalu memiliki tempat istimewa di tengah masyarakat Muslim. Maulid menghadirkan kegembiraan, lantunan selawat, pengajian, zikir, sedekah, serta berbagai kegiatan keagamaan. Namun, ada pertanyaan penting yang patut kita renungkan bersama: setelah peringatan Maulid selesai, adakah sesuatu yang berubah dalam akhlak dan kehidupan kita?
Maulid Nabi semestinya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Ia harus menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali kualitas iman, ibadah, ilmu, dan terutama akhlak kita kepada Allah dan sesama manusia. Kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat tersebut menegaskan bahwa Rasulullah SAW bukan hanya untuk dikagumi, tetapi diteladani. Kita mengenang kelahirannya karena ingin belajar dari kehidupannya. Kita membaca sirahnya karena ingin mengetahui bagaimana beliau beribadah, memimpin, berdagang, berkeluarga, bermasyarakat, menghadapi perbedaan, bahkan bagaimana beliau bersikap kepada orang yang menyakitinya.
Maulid dan Evaluasi Kualitas Ibadah
Kecintaan kepada Rasulullah SAW salah satunya dibuktikan dengan usaha mengikuti sunnah beliau. Memang, kita tidak mungkin menyamai kesempurnaan ibadah Rasulullah. Namun, setidaknya ada keinginan untuk mendekati apa yang beliau contohkan sesuai kemampuan kita.
Jika sebelumnya salat sering terlambat, mari diperbaiki. Jika Al-Qur'an jarang dibaca, mari mulai membacanya. Jika zikir terasa berat, mari membiasakannya. Jika bersedekah hanya menunggu memiliki banyak harta, mari belajar berbagi dari apa yang kita miliki.
Allah SWT berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ
“Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.” (QS. Ali ‘Imran: 31)
Dengan demikian, cinta tidak berhenti pada ungkapan. Cinta melahirkan keteladanan. Semakin mencintai Rasulullah SAW, seharusnya semakin besar pula keinginan memperbaiki ibadah dan akhlak.
Misi Besar Rasulullah: Menyempurnakan Akhlak
Salah satu pesan paling penting dari kerasulan Muhammad SAW adalah pembangunan manusia melalui kemuliaan akhlak. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad)
Karena itu, ukuran keberagamaan seseorang tidak hanya tampak dari banyaknya aktivitas keagamaan yang dilakukan. Ada dimensi lain yang tidak kalah penting: bagaimana akhlaknya setelah beribadah.
Salat seharusnya membuat kita semakin disiplin. Puasa melatih pengendalian diri. Zakat dan sedekah menumbuhkan kepedulian. Membaca Al-Qur'an melembutkan hati. Selawat kepada Rasulullah seharusnya menumbuhkan keinginan meniru kesantunan beliau.
Jangan sampai ibadah kita meningkat, tetapi kemarahan juga meningkat. Jangan sampai ilmu agama bertambah, tetapi semakin mudah merendahkan orang lain. Jangan sampai semakin rajin berbicara tentang kebaikan, tetapi semakin sulit menerima nasihat.
Jangan Merasa Lebih Baik daripada Orang Lain
Salah satu penyakit yang sangat halus adalah merasa diri lebih baik daripada orang lain. Kita mungkin tidak mengatakannya, tetapi perasaan itu terkadang tumbuh di dalam hati: saya lebih alim, saya lebih berpendidikan, saya lebih rajin beribadah, saya lebih paham agama, atau saya lebih baik daripada dia.
Padahal Allah SWT mengingatkan:
فَلَا تُزَكُّوْٓا أَنْفُسَكُمْ ۗ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Kita boleh berusaha menjadi baik, bahkan wajib memperbaiki diri. Tetapi jangan sampai proses menjadi baik justru membuat kita merasa paling baik.
Sebab kita hanya melihat kehidupan seseorang dari luarnya, sementara Allah mengetahui seluruh perjalanan hidup dan isi hatinya. Orang yang hari ini kita anggap banyak kekurangan boleh jadi besok memperoleh hidayah dan menjadi jauh lebih baik daripada kita.
Karena itu, sibukkan diri memperbaiki diri sebelum sibuk mengukur kekurangan orang lain.
Islam tentu memerintahkan umatnya untuk saling menasihati. Menyampaikan kebaikan adalah perbuatan mulia. Rasulullah SAW bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. Bukhari)
Namun, semangat berdakwah juga harus disertai dengan ilmu, hikmah, kasih sayang, dan introspeksi diri. Jangan sampai kita begitu sibuk membicarakan dosa orang lain sehingga lupa memperbaiki dosa sendiri.
Allah SWT berfirman:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Maka berdakwah bukan perlombaan menentukan siapa masuk surga dan siapa masuk neraka. Surga dan neraka adalah hak Allah. Tugas kita adalah menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik, memberikan teladan, mendoakan, mengingatkan dengan santun, serta terus memperbaiki diri.
Dalam bahasa sederhana: boleh mengajak orang lain menuju surga, tetapi jangan terlalu sibuk mengurus “neraka orang lain” sampai lupa mempersiapkan bekal akhirat diri sendiri.
Ada cerita ringan. Suatu hari seseorang selesai mengikuti pengajian tentang pentingnya menjaga lisan. Sepulang pengajian ia bertemu temannya. Belum sampai lima menit, ia berkata, “Tadi ceramahnya bagus sekali tentang jangan membicarakan orang lain. Tapi kamu tahu tidak, si Fulan itu sekarang begini dan begitu...” Temannya tersenyum dan menjawab, “Berarti ceramah tadi belum sampai ke rumah, baru sampai di telinga.” Keduanya tertawa. Cerita ini sederhana, tetapi pesannya dalam: terkadang kita sangat cepat mendengar nasihat, bahkan lebih cepat lagi menyampaikan nasihat kepada orang lain, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk menerapkannya kepada diri sendiri.
*Pendidikan Tinggi Harus Berjalan Bersama Adab yang Tinggi
Dalam kehidupan akademik, pendidikan tinggi tentu merupakan sesuatu yang patut disyukuri. Gelar akademik, karya ilmiah, jabatan, dan keluasan pengetahuan adalah nikmat sekaligus amanah.
Namun, tingginya pendidikan idealnya berbanding lurus dengan tingginya adab.
Semakin banyak ilmu, semakin sadar bahwa masih banyak yang belum diketahui. Semakin tinggi pendidikan, semakin santun dalam berbicara. Semakin tinggi kedudukan, semakin mudah menghargai orang lain. Semakin luas wawasan, semakin terbuka menerima perbedaan pendapat.
Allah SWT berfirman:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”*
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Ilmu memang mengangkat derajat manusia, tetapi ilmu juga membawa tanggung jawab moral. Pendidikan bukan sekadar menghasilkan manusia yang pandai berbicara, tetapi semestinya membentuk manusia yang mengetahui kapan harus berbicara, bagaimana berbicara, dan kapan lebih baik diam.
Gelar boleh panjang, tetapi jangan sampai kesabaran pendek.
Ilmu boleh tinggi, tetapi jangan sampai orang lain dipandang rendah.
Inilah salah satu nilai pendidikan profetik yang dapat kita pelajari dari Rasulullah SAW.
*Menjaga Kualitas Iman di Tengah Kesibukan
Kehidupan modern membuat manusia sibuk dengan pekerjaan, pendidikan, organisasi, keluarga, media sosial, dan berbagai aktivitas lainnya. Di tengah kesibukan tersebut, kualitas hubungan dengan Allah jangan sampai terabaikan.
Iman membutuhkan pemeliharaan. Hati membutuhkan zikir. Jiwa membutuhkan Al-Qur'an. Kesibukan dunia membutuhkan jeda untuk sujud kepada Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai memperbaiki diri. Mulailah dari yang sederhana tetapi konsisten. Salat diperbaiki, Al-Qur'an dibaca, lisan dijaga, orang tua dihormati, keluarga disayangi, tetangga dihargai, pekerjaan dilakukan dengan amanah, dan kesalahan kepada orang lain segera diperbaiki.
Syukur Membuat Kita Tidak Mudah Membandingkan Diri
Selain akhlak dan ibadah, Maulid Nabi juga mengingatkan kita tentang pentingnya syukur.
Syukuri kesehatan. Syukuri keluarga. Syukuri pekerjaan. Syukuri kesempatan belajar. Syukuri orang-orang baik di sekitar kita. Bahkan ujian kehidupan pun dapat menjadi ruang pembelajaran untuk semakin dekat kepada Allah.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Orang yang pandai bersyukur tidak terlalu sibuk membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain. Ia menyadari bahwa setiap manusia mempunyai perjalanan, ujian, dan amanah masing-masing.
Mulailah dari Diri Sendiri
Sebagai Penyuluh Agama Islam sekaligus dosen STAI Tapaktuan, saya mengajak diri saya sendiri dan kita semua untuk terus belajar dan bersama-sama memperbaiki akhlak. Tidak ada di antara kita yang telah selesai belajar menjadi manusia yang baik. Guru masih harus belajar, dosen masih harus belajar, penyuluh masih harus belajar, tokoh agama masih harus belajar, orang tua pun masih terus belajar.
Kita menyampaikan kebaikan bukan karena merasa sudah sempurna. Justru ketika menyampaikan kebaikan kepada orang lain, sesungguhnya kita sedang mengingatkan diri sendiri.
Allah SWT memberikan teguran yang sangat kuat:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2–3)
Ayat ini bukan alasan untuk berhenti mengajak kepada kebaikan. Sebaliknya, ia mengingatkan agar dakwah kepada orang lain selalu berjalan bersama dakwah kepada diri sendiri.
Dari Memperingati Menuju Meneladani
Pada akhirnya, Maulid Nabi Muhammad SAW bukan hanya persoalan seberapa meriah kita memperingatinya, melainkan seberapa jauh keteladanan Rasulullah hadir dalam kehidupan kita setelah peringatan itu selesai.
Mari bertanya kepada diri sendiri: apakah salat kita semakin baik? Apakah lisan semakin terjaga? Apakah kita semakin menghormati orang tua dan guru? Apakah semakin mudah memaafkan? Apakah pendidikan membuat kita semakin rendah hati? Apakah ilmu membuat kita semakin bermanfaat? Apakah ketika melihat kesalahan orang lain kita lebih suka mendoakan dan membimbing daripada mencela?
Mari terus belajar. Jaga kualitas iman melalui ibadah, sempurnakan ilmu dengan adab, hiasi kehidupan dengan syukur, dan jangan merasa diri lebih baik daripada orang lain. Sampaikan kebaikan dengan hikmah, tetapi jangan terlalu sibuk mengurus “neraka orang lain” sehingga lupa mengevaluasi diri dan mempersiapkan bekal sendiri menuju akhirat.
Semoga tulisan ringan ini menjadi pengingat, terutama bagi penulis sendiri, dan mudah-mudahan memberikan manfaat bagi kita semua. Kita tidak sedang berlomba untuk terlihat paling baik. Kita sedang belajar bersama untuk menjadi lebih baik.
Maulid Nabi bukan sekadar mengenang hari kelahiran Rasulullah SAW, tetapi momentum untuk melahirkan kembali nilai-nilai akhlak Rasulullah dalam diri, keluarga, dunia pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan bermasyarakat.
"Wallahu a‘lam bish-shawab".
Penulis: Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.