Trending

Pendidikan Humanis: Dari Hati untuk Peradaban

Yong - Redaksi
Sabtu, 02 Mei 2026

Pendidikan Humanis: Dari Hati untuk Peradaban
Agama/Religi

18 views

Penulis; Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I

Penyuluh Agama Islam KUA TAPAKTUAN


Katapoint.id - Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai momentum refleksi pentingnya pendidikan dalam membentuk manusia yang berilmu, beradab, dan beriman. Peringatan ini tidak lepas dari sosok Ki Hajar Dewantara yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Pendidikan adalah pondasi utama kehidupan manusia; dengannya seseorang mampu meraih keberhasilan, baik di dunia maupun di akhirat. Kesungguhan menjadi kunci utama—sebagaimana pepatah Arab “man jadda wajada” (siapapun yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil). Semakin tinggi kesungguhan seseorang dalam menempuh pendidikan, maka semakin besar pula peluang keberhasilan yang akan diraih.


Dalam perspektif Islam, pendidikan memiliki kedudukan yang sangat mulia. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mujadilah 11:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."

Selain itu, Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam hadis riwayat Anas bin Malik:

"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah).

Ayat dan hadis ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar kebutuhan duniawi, tetapi juga bagian dari ibadah yang mendekatkan manusia kepada Allah SWT.


Namun, dalam perjalanan menuntut ilmu, tidak sedikit kisah jenaka yang justru menjadi kenangan berharga. Ada pelajar yang begitu semangat belajar sampai buku dibawa ke mana-mana, tapi ketika ditanya isinya… malah ingatnya hanya halaman depan! Ada juga yang berkata, “Saya belajar semalaman,” ternyata yang dibuka bukan buku pelajaran, tapi media sosial—niatnya belajar, yang datang malah “scroll tanpa batas.” Hal-hal seperti ini mengingatkan bahwa semangat saja tidak cukup, perlu kesungguhan dan fokus agar ilmu benar-benar masuk, bukan sekadar lewat di depan mata.


Kisah lain yang tak kalah lucu, ada yang menghafal materi dengan penuh perjuangan, namun saat ujian justru “blank total.” Setelah keluar ruangan, baru ingat semua jawaban—ini bukan kurang pintar, tapi mungkin otaknya sedang “mode hemat energi”! Ada pula yang berkata, “Saya sudah belajar keras,” ternyata kerasnya hanya di awal, setelah itu langsung menyerah. Dari sini kita belajar, bahwa proses pendidikan memang butuh konsistensi, bukan hanya semangat sesaat.


Meski diselingi dengan cerita ringan, pendidikan tetaplah jalan mulia yang harus ditempuh dengan kesungguhan. Kita patut bersyukur atas pendidikan yang telah diraih, dan tidak berhenti untuk terus belajar sepanjang hayat. Dalam Islam, belajar tidak mengenal batas usia—selama hayat masih dikandung badan, selama itu pula kewajiban menuntut ilmu tetap ada. Pendidikan yang selaras dengan nilai keagamaan akan membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dalam bersikap dan kuat dalam iman.



Pendidikan juga sejatinya tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi dimulai dari keluarga dan lingkungan sekitar. Orang tua adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, tempat nilai-nilai dasar kehidupan ditanamkan sejak dini. Ketika pendidikan keluarga selaras dengan pendidikan formal dan diperkuat dengan nilai-nilai agama, maka akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akhlak yang kokoh. Inilah yang menjadi harapan besar dari peringatan Hari Pendidikan Nasional—membangun manusia seutuhnya.


Di era digital saat ini, tantangan pendidikan semakin kompleks. Informasi begitu mudah diakses, namun tidak semuanya membawa manfaat. Di sinilah pentingnya pendidikan yang berlandaskan iman, agar setiap ilmu yang diperoleh dapat disaring dengan bijak. Teknologi seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas diri, bukan justru melalaikan. Maka, peran guru, orang tua, dan tokoh agama menjadi sangat penting dalam membimbing generasi agar mampu memanfaatkan perkembangan zaman dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kebaikan.


Semangat belajar harus terus dipupuk tanpa mengenal batas. Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang ada, karena semakin banyak kita belajar, semakin kita sadar bahwa masih banyak yang belum diketahui. Pendidikan adalah perjalanan panjang yang tidak pernah benar-benar selesai. Dengan kesungguhan, doa, dan keikhlasan, setiap langkah dalam menuntut ilmu akan menjadi jalan menuju keberhasilan—tidak hanya di dunia, tetapi juga sebagai bekal berharga di akhirat kelak.



Sebagai penutup, Penyuluh Agama Islam mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mengembangkan pendidikan yang lebih beradab dan humanis. Pendidikan tidak hanya mencetak manusia pintar, tetapi juga membentuk karakter yang berakhlak mulia. Dengan menggabungkan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan, diharapkan lahir generasi yang mampu menjadi penerang bagi dirinya, masyarakat, dan bangsa—menuju kehidupan yang harmonis di dunia dan penuh keberkahan di akhirat.

Komentar
Baca juga
katapoint.id, All rights reserved. | Designed By Rifal Agustiar