Trending

Milad ke-12, ISBI Aceh Tegaskan Peran Strategis Seni dan Budaya

Johan - Redaksi
Kamis, 08 Oktober 2026

Milad ke-12, ISBI Aceh Tegaskan Peran Strategis Seni dan Budaya
Pendidikan

Katapoint.id I Jantho I Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh memasuki usia ke-12 tahun. Momentum tersebut diperingati melalui Sidang Terbuka Senat yang digelar di Auditorium ISBI Aceh, Selasa (6/10/2026). Peringatan ini menjadi ruang refleksi perjalanan institusi sekaligus penegasan komitmen ISBI Aceh dalam memperkuat pendidikan tinggi seni dan budaya di Aceh.

Milad ke-12 ISBI Aceh mengusung tema “Berkarya dalam Seni, Berakar pada Budaya, Melangkah Menuju Masa Depan.” Tema tersebut mencerminkan semangat untuk melahirkan karya seni yang kreatif dan bermakna, menjadikan kekayaan budaya sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuan, serta menghadapi masa depan melalui inovasi dan kolaborasi. Semangat ini menempatkan tradisi sebagai pijakan bagi ISBI Aceh untuk terus berkembang dan menjawab kebutuhan masyarakat.

Tanggal 6 Oktober memiliki makna khusus bagi ISBI Aceh. Pada tanggal yang sama pada 2014, perguruan tinggi seni budaya negeri tersebut resmi berdiri. Dua belas tahun kemudian, ISBI Aceh terus berkembang dengan membawa mandat untuk melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan akademik dan artistik, sekaligus mampu memahami, merawat, mengembangkan, serta mengaktualisasikan kekayaan seni dan budaya Aceh dalam kehidupan masyarakat.

Rektor ISBI Aceh, Prof. Dr. Wildan, M.Pd., mengatakan perjalanan selama 12 tahun tidak seharusnya dipandang sebatas catatan usia sebuah lembaga. Menurutnya, perjalanan tersebut merupakan rekam jejak perjuangan seluruh sivitas akademika dalam membangun fondasi perguruan tinggi seni budaya yang semakin kuat dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

 “Dua belas tahun perjalanan ISBI Aceh bukan sekadar rangkaian angka dalam perjalanan waktu, melainkan refleksi dari perjuangan dan komitmen bersama untuk membangun institusi pendidikan tinggi seni budaya yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa,” ujarnya.

Prof. Wildan menegaskan bahwa perubahan zaman, perkembangan teknologi, serta dinamika masyarakat menuntut perguruan tinggi seni dan budaya untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan akar tradisinya. Karena itu, momentum Milad ke-12 diharapkan dapat memperkuat kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kerja sama dengan berbagai pihak. ISBI Aceh harus mampu menjadikan seni dan budaya sebagai sumber pengetahuan, kreativitas, inovasi, dan kekuatan pembangunan.

Sidang Terbuka Senat tersebut turut diisi dengan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Dr. Ahmad Akmal, M.Pd., Rektor ISBI Aceh periode 2014–2017. Kehadirannya memberikan makna tersendiri karena ia merupakan bagian dari fase awal perjalanan institusi. Orasi ilmiah tersebut menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan ISBI Aceh sekaligus memperkaya pemikiran mengenai arah pengembangan pendidikan tinggi seni dan budaya pada masa mendatang.

Peringatan Milad ke-12 turut dihadiri Dewan Pertimbangan ISBI Aceh, Ketua Majelis Adat Aceh, Rektor Universitas Teuku Umar, Rektor ISI Padang Panjang, Bupati Aceh Besar Syeh Muharram Idris, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta sivitas akademika ISBI Aceh. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan dukungan terhadap penguatan peran ISBI Aceh dalam pembangunan seni, budaya, dan masyarakat di Aceh.

Bupati Aceh Besar Syeh Muharram Idris mengatakan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar siap memperkuat koordinasi dan kerja sama dengan ISBI Aceh. Menurutnya, perguruan tinggi seni budaya memiliki posisi strategis dalam menggali dan mengembangkan potensi budaya daerah agar memberikan dampak langsung bagi masyarakat. “Pemerintah Kabupaten Aceh Besar siap memperkuat koordinasi dan kerja sama dengan ISBI Aceh melalui program-program yang terarah dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.

Ia berharap kerja sama tersebut diwujudkan melalui program yang menyentuh kebutuhan masyarakat, khususnya dalam pengembangan seni, pelestarian budaya, pemberdayaan generasi muda, dan penguatan potensi ekonomi berbasis budaya. “Kami berharap kolaborasi ini dapat menjadikan seni dan budaya bukan hanya sebagai warisan yang dijaga, tetapi juga sebagai kekuatan untuk meningkatkan kreativitas, kesejahteraan, dan pembangunan daerah,” tutupnya.

Komentar
Baca juga
katapoint.id, All rights reserved. | Designed By Rifal Agustiar