Katapoint.id - BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menorehkan sejarah akademik dengan mengukuhkan lima profesor baru dari berbagai bidang keilmuan melalui Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas, yang digelar di Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, Kamis, 30 Oktober 2025.
Sidang tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Senat Akademik USK, Prof. Dr. Ir. Abubakar, M.S. Salah satu dari lima profesor yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Teuku Tahlil, S.Kp., M.S., putra asli Gampong Labuhan Tarok, Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan, yang kini menjabat sebagai Dekan Fakultas Keperawatan USK.
Dalam sambutannya, Rektor USK Prof. Dr. Ir. Marwan menyampaikan bahwa pertumbuhan jumlah profesor di USK dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang positif. Setiap tahunnya, USK berhasil menambah sekitar 15 hingga 20 profesor baru.
“Harapan kita, seluruh kepakaran para profesor USK benar-benar mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Sebab riset dan inovasi yang dihasilkan bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi strategi keberlanjutan bagi bangsa,” ujar Rektor Marwan.
Salah satu wujud nyata dari harapan tersebut tercermin dalam kiprah Prof. Teuku Tahlil, yang risetnya berfokus pada pentingnya peran perawat komunitas dalam membangun kesadaran hidup sehat di kalangan remaja. Pendekatan yang ia kembangkan memadukan nilai budaya, keluarga, dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kesehatan komunitas.
Perjalanan hidup Prof. Tahlil adalah kisah tentang ketekunan dan doa yang panjang. Lahir dari keluarga sederhana di tepi Samudra Hindia, ia menapaki dunia pendidikan dari Sekolah Dasar di Labuhan Tarok, di mana bangku kayu dan papan tulis lusuh menjadi saksi awal mimpinya.
Setiap malam, di bawah cahaya lampu minyak dan alunan ombak pantai Meukek, ia belajar dengan tekun.
“Sekolah bukan sekadar pergi belajar, tapi cara untuk mengubah jalan hidup,” begitu pesan ayahnya yang selalu ia ingat hingga kini.
Setelah menamatkan pendidikan dasar di kampung, Tahlil melanjutkan studi ke kota. Perpisahan dengan keluarga menjadi momen yang berat. Ibunya melepasnya dengan doa, sementara sang ayah berpesan singkat namun dalam makna:
“Ingat, laut mengajarimu berlayar. Sekarang saatnya kau berlayar di samudra ilmu.” ucapnya.
Tekad itulah yang membawanya menembus batas daerah dan negara. Ia menamatkan pendidikan sarjana di Universitas Padjadjaran (UNPAD), lalu melanjutkan studi magister di Amerika Serikat dan doktoral di Australia.
Kini, dengan puluhan riset dan lebih dari seratus publikasi ilmiah di jurnal nasional dan internasional, Prof. Tahlil menjadi salah satu akademisi Aceh yang berpengaruh di bidang keperawatan komunitas.
Meski telah menapaki panggung ilmiah dunia, Prof. Tahlil tetap menjaga akar kampungnya. Setiap kali pulang ke Meukek, ia masih menyempatkan diri duduk di warung kopi tepi pantai, berbincang dengan nelayan, dan mengajar anak-anak di mushala.
“Dulu saya hanya melihat dunia dari tepi pantai ini. Sekarang saya tahu, dunia itu luas, tapi kampung ini selalu jadi rumah,” ujarnya dengan senyum.
Perjalanan hidup Prof. Teuku Tahlil menjadi bukti bahwa dari rumah sederhana di pesisir selatan Aceh, mimpi besar bisa berlayar jauh hingga ke panggung akademik internasional.
“Laut tak pernah bertanya siapa kamu. Ia hanya mengajarkan satu hal: berlayarlah, sampai ke ujung yang kau impikan,” tutupnya penuh makna.[]