Trending

Kisah Dua Penyuluh, Satu Semangat Pengabdian

Yong - Redaksi
Selasa, 02 Juni 2026

Kisah Dua Penyuluh, Satu Semangat Pengabdian
Opini

107 views

Katapoint.id - Di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang terus berkembang, peran Penyuluh Agama Islam menjadi semakin penting dalam memberikan bimbingan, pendampingan, dan solusi keagamaan kepada umat. Tugas tersebut tidak hanya membutuhkan pengetahuan agama yang memadai, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman, membangun komunikasi yang baik, serta menjalin sinergi dengan berbagai pihak. Karena itu, silaturahmi dan pertukaran pengalaman antarpenyuluh menjadi salah satu sarana penting untuk memperkuat kualitas pelayanan keagamaan di tengah masyarakat.


Tulisan ini mengisahkan pertemuan dua penyuluh agama Islam, Muhammad Ali Akbar dari KUA Tapaktuan dan Muhammad Fathir Ma'ruf Nurasykim dari KUA Blang Pidie. Meski berasal dari latar perjalanan yang berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mengabdi dan melayani umat dengan penuh keikhlasan. Dari obrolan santai yang diselingi canda dan tawa, lahirlah berbagai gagasan, pengalaman, serta semangat baru yang menunjukkan bahwa dakwah akan semakin kuat ketika dijalankan dengan kebersamaan dan kolaborasi.




1. Saat Penyuluh Bertemu, Bukan Gosip yang Dicari, Tapi Solusi


Silaturahmi antara Muhammad Ali Akbar dari KUA Tapaktuan dan Muhammad Fathir Ma'ruf Nurasykim dari KUA Blang Pidie menjadi momentum berharga dalam memperkuat komunikasi sesama penyuluh agama Islam. Pertemuan ini bukan sekadar ajang melepas rindu, melainkan ruang bertukar pikiran untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.


Dalam dunia penyuluhan, komunikasi merupakan "bahan bakar" yang membuat program tetap berjalan. Penyuluh tidak cukup hanya menguasai materi agama, tetapi juga harus memahami perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Karena itulah diskusi antarpenyuluh menjadi kebutuhan, bukan sekadar pelengkap.


Obrolan yang dimulai dengan secangkir kopi sering kali berakhir dengan lahirnya ide-ide besar. Ada yang membahas strategi dakwah digital, ada yang berbagi pengalaman menghadapi persoalan umat, bahkan ada yang bertukar cerita unik saat turun ke lapangan.


Menariknya, pertemuan penyuluh jarang membahas hal-hal yang viral. Ketika orang lain sibuk memperdebatkan skor pertandingan sepak bola, penyuluh justru sibuk mencari cara agar masyarakat lebih mudah memahami nilai-nilai agama. Kadang pembahasannya serius, kadang juga diselingi canda yang membuat suasana semakin hangat.


Allah SWT berfirman:

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa." (QS. Al-Maidah: 2)


Ayat ini menjadi pengingat bahwa sinergi dan kolaborasi dalam dakwah adalah bagian dari ibadah.



2. Fathir: Penyuluh yang Berdakwah dari Mimbar Hingga Media Sosial


Karier Muhammad Fathir Ma'ruf Nurasykim sebagai Penyuluh Agama Islam dimulai pada tahun 2023 di KUA Babahrot. Sebagai penyuluh muda, beliau menjalani tugas dengan semangat belajar dan semangat melayani masyarakat.


Dua tahun bertugas di Babahrot memberikan banyak pengalaman berharga. Dari sana beliau belajar bahwa setiap masyarakat memiliki karakteristik yang berbeda sehingga pendekatan dakwah juga harus disesuaikan.


Setelah mengabdi di Babahrot, beliau mendapat amanah untuk bertugas di KUA Blang Pidie. Perpindahan tugas tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan pengabdiannya sebagai pelayan umat.


Yang menarik, Fathir tidak hanya aktif sebagai penyuluh agama Islam. Ia juga dikenal sebagai konten kreator yang dekat dengan generasi muda. Baginya, dakwah tidak harus selalu dilakukan di atas mimbar. Kadang pesan agama bisa lebih cepat sampai melalui video pendek yang muncul di layar ponsel.


Ada gurauan di kalangan sahabatnya, "Kalau penyuluh dulu membawa buku catatan, sekarang harus siap membawa tripod juga." Namun apa pun medianya, tujuan utamanya tetap sama, yaitu menyebarkan kebaikan dan mengajak masyarakat menuju jalan yang diridhai Allah SWT.


Rasulullah SAW bersabda:

"Sampaikanlah dariku walau satu ayat." (HR. Bukhari)



3. Jejak Pengabdian Akbar dalam Membina dan Melayani Masyarakat


Muhammad Ali Akbar memulai pengabdiannya di Aceh Selatan pada tahun 2015 sebagai tenaga pendidik di STAI Tapaktuan Aceh Selatan. Dunia pendidikan menjadi tempat awal beliau mengabdikan ilmu dan pengalamannya.


Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 2016, beliau dipercaya menjadi Penyuluh Agama Islam. Amanah tersebut diterima sebagai bagian dari ikhtiar untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.


Sejak tahun 2017 hingga saat ini, berbagai bidang penyuluhan telah dijalani. Namun ada satu bidang yang menjadi fokus utama, yaitu bimbingan dan penyuluhan wakaf. Bidang ini membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan kemampuan membangun komunikasi dengan berbagai pihak.


Mengurus wakaf terkadang menghadirkan cerita yang unik. Ada dokumen yang usianya lebih tua daripada penyuluh yang menanganinya. Ada pula tanah wakaf yang sejarahnya harus ditelusuri dari cerita para tetua gampong. Kadang penyuluh harus menjadi peneliti, mediator, sekaligus pendengar yang baik.


Namun semua itu dijalani dengan penuh keikhlasan. Sebab menjaga aset wakaf berarti menjaga amanah umat agar tetap memberi manfaat bagi generasi yang akan datang.


Allah SWT berfirman:

"Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai." (QS. Ali Imran: 92)



4. Dari Wakaf Hingga Konten Kreator: Bertukar Ide Tanpa Batas


Pertemuan antara Akbar dan Fathir menjadi perpaduan pengalaman yang menarik. Yang satu banyak berkecimpung dalam pendampingan wakaf, sedangkan yang lain aktif memanfaatkan media digital untuk dakwah.


Dalam diskusi tersebut, keduanya saling berbagi pengalaman mengenai tantangan dan peluang dunia penyuluhan di era modern. Mereka sepakat bahwa metode dakwah harus terus berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar Islam.


Akbar berbagi pengalaman tentang pentingnya pendampingan wakaf yang profesional. Sementara Fathir menjelaskan bagaimana media sosial dapat menjadi sarana efektif untuk menjangkau generasi muda.


Kadang diskusi berlangsung serius, kadang berubah menjadi penuh tawa. Misalnya ketika membahas pembuatan konten dakwah. Fathir bercerita bahwa membuat video satu menit terkadang membutuhkan waktu berjam-jam. Mendengar itu, Akbar bercanda, "Kalau mengurus wakaf, satu berkas saja kadang perlu beberapa kali pertemuan."


Perbedaan pengalaman tersebut justru melahirkan inspirasi baru. Dari sana muncul keyakinan bahwa penyuluh masa kini harus mampu berdakwah di lapangan sekaligus di dunia digital.


5. Penyuluh Zaman Now: Dakwah yang Serius, Cara Penyampaiannya Santai


Tantangan penyuluh agama Islam saat ini jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Perkembangan teknologi membuat arus informasi bergerak sangat cepat sehingga penyuluh harus mampu menyesuaikan diri.


Penyuluh tidak lagi hanya hadir di majelis taklim atau masjid. Mereka juga hadir di media sosial, forum digital, dan berbagai ruang komunikasi masyarakat. Dakwah harus mampu menjangkau semua kalangan.


Meski demikian, nilai yang disampaikan tetap sama. Al-Qur'an dan Sunnah tetap menjadi pedoman utama dalam menjalankan tugas kepenyuluhan.


Ada satu humor yang sering muncul. Dahulu penyuluh khawatir kehabisan tinta pulpen saat mencatat materi. Sekarang penyuluh justru khawatir baterai telepon genggam habis saat membuat dokumentasi kegiatan. Zaman berubah, tetapi semangat pengabdian tetap sama.


Rasulullah SAW bersabda:


"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)


Silaturahmi antara Muhammad Ali Akbar dan Muhammad Fathir Ma'ruf Nurasykim menunjukkan bahwa penyuluh agama Islam tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu, tetapi juga membangun kolaborasi, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan solusi bagi umat. Sebab ketika dua penyuluh bertemu, yang lahir bukan hanya percakapan, tetapi juga gagasan-gagasan baru untuk melayani masyarakat dengan lebih baik.

Komentar
Baca juga
katapoint.id, All rights reserved. | Designed By Rifal Agustiar