Katapoint.id -Pernikahan sebagai Ibadah Suci yang Harus Dijaga. Pernikahan merupakan salah satu peristiwa paling sakral dalam kehidupan manusia. Dalam Islam, pernikahan bukan hanya hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga merupakan akad yang mengandung nilai ibadah, tanggung jawab, dan pengabdian kepada Allah Swt. Oleh karena itu, setiap pasangan yang telah mengikat janji suci harus berupaya menjaga rumah tangganya dalam keadaan apa pun, baik ketika senang maupun ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Setiap kebaikan membutuhkan proses. Begitu pula dalam membangun rumah tangga yang harmonis. Tidak ada keluarga yang langsung menjadi sempurna dalam satu malam. Semua memerlukan waktu, kesabaran, pengorbanan tenaga, pikiran, dan perasaan. Kadang-kadang pasangan harus belajar memahami karakter satu sama lain, mengalahkan ego, serta berusaha menjadi pendengar yang baik.
Pada hari Kamis yang lalu, penulis bersama Drs. M. Sanin mendapat amanah dari Kepala KUA Tapaktuan, Drs. Murdi Us, untuk menghadiri akad nikah Rusy Dina dari Gampong Lhok Bengkuang Timur dengan Ali Hasyimi dari Kecamatan Kluet Utara. Dalam acara tersebut, kami dipercaya menjadi saksi pernikahan, sedangkan wali nikah dilaksanakan oleh Miswardi yang dikenal sebagai salah satu imam masjid dan mushalla di Gampong Lhok Bengkuang.
Saat ijab kabul berlangsung, suasana menjadi hening. Semua mata tertuju kepada mempelai pria yang akan mengucapkan akad. Ketika kalimat ijab kabul selesai dengan lancar dalam satu tarikan napas, para tamu langsung mengucapkan "sah". Ada seorang anak kecil yang ikut berteriak paling keras. Setelah ditanya, ternyata ia mengira sedang menyaksikan pertandingan sepak bola dan menganggap kata "sah" itu seperti gol kemenangan. Sontak seluruh hadirin tertawa, namun suasana tetap penuh khidmat.
Allah Swt. berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar-Rum: 21)
Manusia Diciptakan Berpasangan dan Saling Menguatkan. Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan. Pasangan hidup bukan sekadar teman berbagi cerita, tetapi juga sahabat yang membantu menguatkan ketika lemah dan mengingatkan ketika lalai. Dalam kehidupan rumah tangga, suami dan istri adalah mitra yang saling melengkapi kekurangan masing-masing.
Allah Swt. berfirman:
وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا
"Dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan.(QS. An-Naba': 8)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa keberadaan pasangan merupakan bagian dari sunnatullah. Karena itu, tujuan pernikahan bukan sekadar memenuhi kebutuhan biologis, tetapi juga membangun kehidupan yang lebih bermakna dan produktif.
Dalam realitas kehidupan, pasangan suami istri pasti akan menghadapi berbagai persoalan. Ada masa ekonomi sulit, ada masa kesehatan terganggu, dan ada masa kesalahpahaman muncul. Namun semua itu dapat dilalui apabila keduanya saling menguatkan dan tidak saling menyalahkan.
Seorang bapak pernah bercanda saat menghadiri pesta pernikahan. Ia berkata, "Rahasia rumah tangga saya bertahan tiga puluh tahun sederhana saja. Kalau istri marah, saya diam. Kalau saya marah, tetap saya yang diam." Mendengar itu, istrinya langsung menyahut, "Makanya rumah tangga kita awet karena bapak memang jarang punya kesempatan bicara." Seluruh tamu tertawa mendengar candaan tersebut. Di balik kelucuan itu terdapat pesan bahwa kesabaran memang menjadi salah satu kunci keharmonisan keluarga.
Makna Sakinah yang Viral di Media Sosial. Istilah *sakinah* belakangan ini ramai diperbincangkan di media sosial, terutama dalam berbagai konten pernikahan dan keluarga. Namun, sakinah bukan sekadar tren atau ungkapan populer, melainkan keadaan hati yang tenang, tenteram, dan penuh keberkahan dalam kehidupan rumah tangga. Dalam Islam, keluarga sakinah dibangun di atas fondasi iman, kasih sayang (mawaddah), dan cinta yang penuh rahmat (rahmah), sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Ar-Rum ayat 21. Karena itu, sakinah tidak hanya tercermin saat suasana bahagia, tetapi juga ketika suami dan istri mampu saling menguatkan, menjaga komitmen, serta menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan kesabaran dan keikhlasan.
Belakangan ini masyarakat sering mendengar istilah "Tepuk Sakinah" yang viral di berbagai media sosial dan kegiatan bimbingan perkawinan. Tepuk Sakinah sebenarnya merupakan metode sederhana untuk mengingat nilai-nilai utama dalam membangun keluarga yang harmonis.
Intisari Tepuk Sakinah bukan sekadar tepuk tangan yang diikuti yel-yel, melainkan pengingat bahwa rumah tangga harus dibangun dengan komitmen, komunikasi, kasih sayang, tanggung jawab, dan ketakwaan kepada Allah Swt. Pesan ini dikemas secara ringan agar mudah dipahami oleh pasangan muda.
Secara umum, makna sakinah adalah ketenangan dalam keluarga. Ketenangan tersebut lahir ketika suami dan istri mampu saling menghormati, saling mendukung, dan saling mendoakan. Keluarga sakinah bukan keluarga yang tidak memiliki masalah, melainkan keluarga yang mampu menyelesaikan masalah dengan baik.
Ketika mengikuti kegiatan bimbingan perkawinan, ada peserta yang begitu semangat mengikuti Tepuk Sakinah hingga salah menyebutkan yel-yelnya. Saat instruktur bertanya, "Siap membangun keluarga sakinah?" Ia menjawab dengan lantang, "Siap membangun keluarga sederhana!" Semua peserta tertawa, tetapi instruktur mengatakan bahwa jawaban itu juga benar karena banyak keluarga bahagia lahir dari kesederhanaan.
Tepuk Sakinah menjadi populer karena mampu menyampaikan pesan besar dengan cara yang sederhana. Generasi muda lebih mudah mengingat pesan yang disampaikan secara kreatif dibandingkan ceramah yang terlalu panjang. Namun yang paling penting bukanlah tepukannya, melainkan bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Hadis Nabi tentang Pentingnya Memuliakan Pasangan. Rasulullah Saw. memberikan teladan terbaik dalam membangun rumah tangga. Beliau dikenal sebagai suami yang lembut, penyayang, dan penuh perhatian kepada keluarganya. Sikap inilah yang menjadi fondasi utama keluarga sakinah.
Rasulullah Saw. bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku." (HR. At-Tirmidzi)
Hadis tersebut mengajarkan bahwa ukuran kebaikan seseorang tidak hanya dilihat dari jabatan, harta, atau kedudukannya di masyarakat, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya di rumah.
Banyak orang terlihat ramah kepada orang lain tetapi justru mudah marah kepada keluarganya sendiri. Padahal keluarga adalah pihak yang paling berhak mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan kelembutan. Rumah yang dipenuhi kata-kata baik akan melahirkan ketenangan bagi seluruh penghuninya.
Seorang suami pernah ditanya apa resep rumah tangganya harmonis. Ia menjawab sambil tersenyum, "Setiap kali istri benar, saya mengaku salah. Kalau saya benar, saya tunggu sampai istri menganggap saya benar." Jawaban itu mengundang gelak tawa, tetapi mengandung pesan bahwa mengalah demi kebaikan rumah tangga sering kali lebih mulia daripada mempertahankan ego.
Menjaga Janji Suci Menuju Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah. Pernikahan Rusy Dina dan Ali Hasyimi menjadi pengingat bahwa setiap akad nikah adalah awal dari perjalanan panjang. Setelah pesta selesai, setelah tamu pulang, dan setelah foto-foto tersimpan rapi, kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya baru dimulai.
Keluarga sakinah tidak lahir dari kemewahan pesta, tetapi dari kesungguhan menjaga janji yang telah diucapkan di hadapan Allah Swt. Kesetiaan, kejujuran, kesabaran, dan saling menghargai harus terus dipelihara sepanjang kehidupan pernikahan.
Allah Swt. menyebut akad nikah sebagai perjanjian yang kuat:
وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا
"Mereka (istri-istri) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat." (QS. An-Nisa': 21)
Karena itu, pasangan suami istri harus selalu mengingat bahwa rumah tangga bukan arena mencari siapa yang paling benar, melainkan tempat mencari solusi bersama. Ketika masalah datang, keduanya harus berdiri dalam satu tim, bukan saling berhadapan sebagai lawan.
Semoga pernikahan Rusy Dina dan Ali Hasyimi menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan keberkahan, keteguhan hati, serta kemampuan untuk menjaga cinta dan kepercayaan hingga akhir hayat. Sebab sejatinya, rumah tangga yang bahagia bukanlah rumah tangga tanpa ujian, melainkan rumah tangga yang mampu bertahan dan semakin kuat karena ujian tersebut. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
Penulis berharap kepada setiap pasangan yang telah melangsungkan ijab kabul agar senantiasa menjaga dan mempertahankan ikatan suci pernikahan yang telah diikrarkan di hadapan Allah Swt., keluarga, dan masyarakat. Pernikahan bukan hanya tentang kebahagiaan pada hari akad atau resepsi semata, melainkan sebuah komitmen jangka panjang yang harus dirawat dengan penuh kesabaran, keikhlasan, saling pengertian, dan tanggung jawab. Ketika berbagai ujian dan tantangan datang menghampiri, hendaknya pasangan suami istri menjadikannya sebagai sarana untuk semakin memperkuat cinta, kepercayaan, dan kebersamaan dalam rumah tangga.
Semoga setiap keluarga yang telah dibangun mampu menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah sebagaimana yang dicita-citakan dalam ajaran Islam. Jangan mudah menyerah hanya karena perbedaan pendapat atau persoalan kehidupan yang bersifat sementara. Ingatlah bahwa setiap rumah tangga pasti memiliki dinamika dan ujian masing-masing. Dengan memperkuat iman, memperbanyak komunikasi yang baik, serta saling mendukung dalam kebaikan, insya Allah ikatan suci pernikahan akan tetap terjaga hingga akhir hayat dan menjadi jalan menuju kebahagiaan dunia serta keselamatan di akhirat.[]
Penulis: Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.
KUA Tapaktuan, Aceh Selatan