Katapoint.id - Dalam sejarah manusia, banyak tokoh perempuan mulia. Namun hanya satu wanita yang namanya diabadikan secara khusus sebagai nama surah dalam Al-Qur’an, yaitu Surah ke-19: Maryam. Ia bukan nabi, bukan pula rasul. Tetapi ketaatan, kesucian, dan keteguhannya menjadikannya teladan plintas zaman.
Dialah Maryam binti Imran — wanita shalihah yang hidupnya penuh ujian luar biasa. Sejak dalam kandungan, masa pengasuhan, hingga ujian terberat: mengandung tanpa ayah. Semua dihadapinya dengan iman, sabar, dan tawakal total kepada Allah.
Puasa Diam: Ketika Jawaban Terbaik Adalah Diam
Salah satu pelajaran yang sering terlupa dari kisah Maryam adalah “puasa diam”.
Ketika ia kembali kepada kaumnya sambil menggendong bayi Isa, tuduhan dan cibiran tak terelakkan. Secara manusiawi, ia bisa saja membela diri. Namun Allah memerintahkannya:
“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.” (QS. Maryam: 26)
Puasa di sini bukan menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan lisan.
Dalam kondisi difitnah, Maryam tidak membalas. Ia tidak membuat klarifikasi panjang di “media sosial Bani Israil” he ..he.. Ia tidak membuat konferensi pers. Ia diam… dan Allah yang membelanya.
Dan benar, bayi itu berbicara:
“Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Kitab dan menjadikanku seorang nabi." (QS. Maryam: 30)
Subhanallah.
Kadang kita terlalu sibuk membela diri, padahal kalau kita benar, Allah cukup sebagai pembela.
Puasa diam ini sangat relevan bagi kita hari ini. Di bulan Ramadhan, bukan hanya perut yang berpuasa — lisan juga harus berpuasa. Jangan sampai siang puasa, tapi malamnya buka aib orang.
Kalau Maryam saja diuji seberat itu lalu memilih diam karena perintah Allah, masa kita tidak tahan ketika hanya ditanya, “Kok belum balas WA?”
Dari Mihrab Maryam ke Musholla Al-Ikhlas
Pada hari Senin, 2 Maret 2026, saya mendapat amanah dalam program SADAR (Safari Desa Binaan Ramadhan) untuk menjadi imam shalat Isya, Tarawih, dan Witir sekaligus menyampaikan ceramah singkat di Musholla Al-Ikhlas Gampong Lhok Rukam, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan.
Kegiatan ini bertepatan dengan Safari Ramadhan yang dilaksanakan oleh Forum Imam dan Khatib Kecamatan Tapaktuan (FIK).
Safari ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah ruang silaturahmi antara ulama, umara, dan umat.
Turut hadir unsur muspika: Kapolsek Tapaktuan M. Akhir, Danramil, Camat, pengurus FIK, serta perwakilan dari Yayasan Ruang Kito Basamo (YRKB) yang diwakili oleh Novi Rosmita, S.E., M.Kes., yang juga Anggota DPRK Aceh Selatan.
Acara diawali dengan ramah tamah — yang ini penting. Karena kadang sebelum tausiyah masuk ke hati, kopi dulu yang harus masuk ke badan. Dilanjutkan berbuka puasa bersama di Masjid Raudhatul Ihsan, lalu shalat Maghrib berjamaah yang diimami Ketua FIK, Ustadz Ridho Pahlevi, SKM.
Suasana terasa hangat. Tidak ada sekat jabatan. Semua berdiri dalam satu saf.
Yang menarik, Safari Ramadhan FIK ini sudah memasuki tahun ketiga sejak kepengurusan dibentuk pada 2024. Tiga tahun mungkin terlihat singkat, tetapi konsistensi itulah yang mahal.
Dari Maryam Kita Belajar
Ketika saya berdiri di mihrab malam itu, teringat kisah Maryam yang juga dibesarkan di mihrab.
Mihrab bukan sekadar ruang ibadah. Ia adalah tempat ditempanya jiwa. Dari mihrab lahir kesabaran, keteguhan, dan keberanian menghadapi fitnah zaman.
Maryam mengajarkan:
* Jangan remehkan doa orang tua.
* Jangan takut pada fitnah selama kita di jalan Allah.
* Kadang diam adalah dakwah paling kuat.
* Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang menjaga kehormatan.
Dan Ramadhan adalah bulan latihan.
Latihan sabar.
Latihan menahan diri.
Latihan puasa lisan.
Karena itu, saya sering bercanda kepada jamaah: “Kalau belum mampu puasa sunnah Senin-Kamis, minimal puasa komentar dulu di grup WhatsApp.”
Jamaah tertawa, tapi pesannya sampai.
Refleksi
Safari Ramadhan bukan sekadar berpindah dari satu masjid ke masjid lain. Ia adalah perjalanan ruhani. Kita tidak hanya membawa materi ceramah, tetapi membawa semangat persatuan.
Seperti Maryam yang menjaga kehormatannya dalam sunyi, kita pun menjaga ukhuwah dalam kebersamaan.
Semoga Allah menjadikan setiap langkah dakwah ini bernilai ibadah.
Semoga Ramadhan ini bukan hanya ramai di jadwal, tapi juga dalam kualitas hati.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Penulis: Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I
Penyuluh Agama Islam KUA Tapaktuan