Katapoint.id - Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Jika dahulu mahasiswa harus menempuh perjalanan jauh menuju kampus untuk mengikuti perkuliahan, kini proses belajar dapat berlangsung dari berbagai tempat melalui sistem pembelajaran berbasis online. Kehadiran teknologi ini menjadi solusi bagi mahasiswa dan dosen yang memiliki kendala jarak, waktu, maupun kondisi tertentu sehingga proses pendidikan tetap berjalan secara optimal.
Pembelajaran online bukanlah bentuk pengurangan kualitas pendidikan, melainkan salah satu ikhtiar untuk memudahkan proses transfer ilmu. Selama dilaksanakan dengan disiplin, terarah, dan bertanggung jawab, pembelajaran daring tetap mampu menghadirkan suasana akademik yang aktif dan produktif. Dalam Islam, kemudahan merupakan bagian dari prinsip syariat yang selalu mengedepankan kemaslahatan umat.
1. Menuntut Ilmu Tidak Terhalang Jarak
Islam memberikan perhatian besar terhadap pentingnya menuntut ilmu. Bahkan perjalanan mencari ilmu termasuk salah satu jalan menuju kebaikan dan kemuliaan di sisi Allah Swt. Namun perkembangan zaman menghadirkan berbagai sarana yang dapat mempermudah proses tersebut, termasuk melalui pembelajaran online.
Allah Swt. berfirman:
"Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini menunjukkan bahwa kemudahan merupakan bagian dari rahmat Allah kepada manusia. Dalam konteks pendidikan, penggunaan teknologi untuk mempermudah akses belajar dapat menjadi bagian dari penerapan prinsip kemudahan tersebut.
Mahasiswa yang berada jauh dari kampus tetap dapat mengikuti perkuliahan tanpa harus mengeluarkan biaya perjalanan yang besar. Bahkan ada mahasiswa yang harus menyeberangi sungai, melewati jalan berlumpur, atau menempuh perjalanan berjam-jam jika harus hadir secara langsung. Kini mereka cukup menyiapkan perangkat dan jaringan internet untuk mengikuti pembelajaran.
Kadang-kadang muncul cerita lucu saat kuliah daring. Dosen sedang menjelaskan materi dengan penuh semangat, tiba-tiba terdengar suara ayam berkokok dari mikrofon mahasiswa. Dosen pun bertanya, “Itu suara siapa?” Mahasiswa menjawab, “Maaf Pak, teman satu kelompok saya di rumah.” Seketika kelas menjadi riuh dengan tawa.
2. Teknologi Sebagai Sarana Meraih Kemaslahatan
Teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Nilainya bergantung pada bagaimana manusia memanfaatkannya. Jika digunakan untuk belajar dan menambah ilmu pengetahuan, maka teknologi menjadi sarana yang mendatangkan manfaat besar.
Allah Swt. berfirman:
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa." (QS. Al-Maidah: 2)
Pembelajaran online merupakan salah satu bentuk kerja sama dalam kebaikan antara dosen dan mahasiswa. Dosen tetap dapat menyampaikan materi, sementara mahasiswa tetap memperoleh haknya untuk belajar meskipun berada di lokasi yang berbeda.
Selain itu, teknologi memungkinkan berbagai sumber ilmu diakses dengan lebih cepat. Buku elektronik, jurnal ilmiah, perpustakaan digital, dan forum akademik dapat dijangkau hanya melalui telepon genggam atau komputer. Hal ini tentu memperkaya wawasan mahasiswa dalam proses pembelajaran.
Namun teknologi juga punya sisi jenaka. Ada mahasiswa yang kameranya mati selama satu jam. Ketika dosen meminta menyalakan kamera, ternyata ia sedang duduk di warung kopi sambil memesan mi instan. Alasannya sederhana, “Saya tetap fokus kok Pak, cuma fokusnya terbagi dua.”
3. Esensi Belajar Tetap Menjadi Prioritas
Sebagian orang beranggapan bahwa pembelajaran online mengurangi kualitas pendidikan. Padahal yang menentukan kualitas belajar bukan hanya tempat perkuliahan, tetapi juga kesungguhan dalam menuntut ilmu.
Rasulullah Saw. bersabda:
"Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa niat yang baik akan menentukan nilai suatu amal. Jika mahasiswa dan dosen memiliki kesungguhan dalam proses belajar mengajar, maka pembelajaran online tetap dapat menghasilkan kualitas yang baik.
Esensi pendidikan adalah terjadinya proses transfer ilmu, pembentukan karakter, dan pengembangan kemampuan berpikir. Selama tujuan tersebut tercapai, maka metode pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.
Ada pula kisah lucu ketika dosen meminta mahasiswa mempresentasikan tugas. Dengan percaya diri mahasiswa menjelaskan materi selama lima menit. Setelah selesai, dosen berkata, “Bagus sekali, tapi itu tugas mata kuliah semester lalu.” Mahasiswa langsung terdiam dan hanya mampu tersenyum sambil berkata, “Berarti saya terlalu semangat belajar, Pak.”
4. Disiplin Menjadi Kunci Keberhasilan
Pembelajaran online memberikan fleksibilitas, tetapi juga menuntut kedisiplinan yang tinggi. Mahasiswa harus mampu mengatur waktu, menjaga fokus, dan tetap menghormati proses perkuliahan meskipun tidak berada di ruang kelas.
Allah Swt. berfirman:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian." (QS. Al-'Ashr: 1-2)
Ayat ini mengingatkan pentingnya menghargai waktu. Pembelajaran daring yang berhasil adalah pembelajaran yang memanfaatkan waktu secara efektif dan produktif.
Dosen juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan suasana belajar yang menarik dan interaktif. Dengan demikian, mahasiswa tetap aktif berdiskusi, bertanya, dan memahami materi yang disampaikan.
Kadang-kadang tantangan terbesar bukan jaringan internet, melainkan rasa kantuk. Ada mahasiswa yang awalnya duduk tegak di depan layar. Lima belas menit kemudian kamera mati. Ketika dipanggil dosen, tidak ada jawaban. Setelah kelas selesai, ia mengirim pesan, “Maaf Pak, sinyal saya hilang.” Padahal yang hilang sebenarnya kesadarannya karena tertidur.
5. Masa Depan Pendidikan yang Adaptif dan Humanis
Pembelajaran online menunjukkan bahwa pendidikan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Kampus tidak lagi dibatasi oleh gedung dan ruang kelas, tetapi dapat menjangkau mahasiswa di berbagai daerah melalui teknologi.
Rasulullah Saw. bersabda:
"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa setiap usaha mencari ilmu memiliki nilai yang mulia di sisi Allah. Jalan menuju ilmu tidak selalu harus melalui perjalanan fisik yang jauh, tetapi juga dapat ditempuh melalui sarana yang tersedia pada zamannya.
Ke depan, pembelajaran online dan tatap muka dapat berjalan beriringan. Keduanya saling melengkapi untuk menghadirkan pendidikan yang lebih inklusif, efektif, dan menjangkau lebih banyak peserta didik.
Pada akhirnya, mahasiswa tidak lagi bertanya, “Kuliah hari ini di ruang berapa?” melainkan “Link-nya yang mana?” Bahkan ada yang begitu terbiasa kuliah online hingga suatu hari datang ke kampus dan bertanya kepada temannya, “Kalau dosennya hadir langsung begini, tombol mute-nya ada di mana?” Dari kisah-kisah sederhana itu, kita belajar bahwa teknologi boleh berubah, tetapi semangat mencari ilmu harus tetap menyala sepanjang masa.[]
Penulis: Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.
KUA TAPAKTUAN, Aceh Selatan