Trending

Menikahlah Bila Mampu: Membangun Rumah Tangga dengan Iman, Cinta dan Tanggung Jawab

Yong - Redaksi
Selasa, 01 September 2026

Menikahlah Bila Mampu: Membangun Rumah Tangga dengan Iman, Cinta dan Tanggung Jawab
Opini

Katapoint.id - Setiap manusia mempunyai kebutuhan, baik material maupun nonmaterial. Ada kebutuhan makan, pakaian dan tempat tinggal, tetapi ada pula kebutuhan akan kasih sayang, ketenteraman, perhatian dan teman berbagi kehidupan. Karena itulah Islam memberikan jalan yang mulia melalui pernikahan. Pada Senin, 31 Agustus 2026, penulis mendapat amanah dari Kepala KUA Tapaktuan untuk menjadi salah seorang saksi nikah, bersama Imeum Chik Gampong Panton Luas, Tgk. Mufizar, dalam prosesi pernikahan Riduan Pal, yang berasal dari Gampong Palo, Blangkejeren, dengan Arifa Nabila, dari Gampong Panton Luas, Tapaktuan. Peristiwa tersebut bukan sekadar menyaksikan dua orang mengucapkan ijab dan kabul, tetapi menjadi pengingat bahwa pernikahan adalah awal perjalanan panjang membangun kehidupan bersama. Semoga Allah SWT menjadikan keduanya keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.



Sudah Mampu? Menikahlah, Jangan Hanya Sibuk Mencari Jodoh di Status


Islam memahami fitrah manusia. Ketika seorang pemuda dan gadis telah sampai waktunya, memiliki kesiapan dan kemampuan untuk menjalani tanggung jawab rumah tangga, maka pernikahan merupakan jalan mulia untuk menjaga kehormatan. Rasulullah SAW bersabda: 

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ

“Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang telah mampu menikah, maka menikahlah.” Beliau menjelaskan bahwa pernikahan lebih membantu menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan; sedangkan orang yang belum mampu dianjurkan berpuasa. (HR. Bukhari).

Maka, kalau memang sudah siap, jangan hanya setiap menghadiri pesta pernikahan berkata, “Kapan giliran saya?” Sementara ketika keluarga bertanya serius, jawabannya, “Nanti dulu, masih mau menikmati masa muda.” Usia terus berjalan, kalender terus berganti, dan pertanyaan di pesta nikah pun makin lama makin sulit dijawab. Menikah tentu bukan perlombaan siapa paling cepat, tetapi ketika telah siap, jangan pula menunda hanya karena mengejar pesta yang sempurna.



Menikah Bukan Sekadar “Sah”, tetapi Jalan Menjaga Kehormatan


Pernikahan menjadi salah satu benteng untuk menjaga diri dari pergaulan yang dapat menyeret kepada zina. Allah SWT dengan tegas berfirman: 


وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا 

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32).

 Menariknya, ayat tersebut bukan hanya melarang melakukan zina, tetapi juga melarang mendekatinya. Karena itu, menjaga pandangan, pergaulan, komunikasi dan batas-batas hubungan merupakan bagian dari menjaga kehormatan. Bagi yang belum mampu menikah, jangan berkecil hati. Rasulullah SAW memberikan “resep” berupa puasa untuk membantu mengendalikan diri. Jadi, kalau belum ada biaya menikah, jangan malah berkata, “Daripada puasa, lebih baik cari pacar dulu.” Itu resepnya sudah berubah! Resep Nabi adalah puasa dan menjaga diri, bukan memperpanjang hubungan yang justru membuka pintu kemaksiatan.



 Rumah Tangga Butuh Pondasi, Bukan Hanya Dekorasi


Membangun rumah tangga ibarat membangun sebuah rumah. Orang biasanya sibuk memikirkan cat dinding, sofa, kamar, dapur hingga warna gorden. Tetapi rumah yang indah tidak akan bertahan apabila pondasinya rapuh. Demikian pula pernikahan. Pondasi utamanya adalah iman dan takwa, kemudian diperkuat dengan ilmu, komunikasi, tanggung jawab, kesabaran, ekonomi yang dikelola dengan baik, saling menghormati dan kesediaan menerima kekurangan pasangan. Allah SWT berfirman: 

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً


 “Dan di antara tanda-tanda

 kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21).

Maka jangan membayangkan rumah tangga setiap hari seperti foto prewedding: tersenyum terus, pakaian rapi dan latar belakang indah. Setelah menikah ada tagihan, pekerjaan rumah, anak menangis dan kadang pertanyaan sederhana seperti, “Mau makan apa?” bisa dijawab, “Terserah,” tetapi semua pilihan ternyata salah! Di situlah kesabaran, komunikasi dan kasih sayang benar-benar dipraktikkan.



Akad Nikah Singkat, Tanggung Jawabnya Sepanjang Kehidupan


Ketika menyaksikan akad nikah Riduan Pal dan Arifa Nabila di Gampong Panton Luas, ada pelajaran yang kembali terasa: ijab kabul dapat berlangsung hanya beberapa saat, tetapi tanggung jawab setelahnya berlangsung bertahun-tahun bahkan sepanjang kehidupan. Setelah kata “sah” terdengar, yang lahir bukan hanya kebahagiaan, tetapi juga amanah. Suami berkewajiban memimpin keluarga dengan kebaikan, memberikan nafkah sesuai kemampuan, melindungi dan membimbing keluarganya. Istri menjadi pasangan yang bersama-sama membangun ketenteraman keluarga. Keduanya bukan lawan yang mencari siapa paling benar, melainkan pasangan yang harus saling melengkapi. Allah menggambarkan hubungan suami istri dengan ungkapan yang sangat indah: 


هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

 "Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka." (QS. Al-Baqarah: 187).

 Pakaian menutup kekurangan, melindungi dan memperindah. Maka kalau mengetahui kekurangan pasangan, tugas pertama bukan mengumumkannya ke grup WhatsApp keluarga. Kalau semua masalah rumah tangga langsung dijadikan status, nanti yang ikut “sidang rumah tangga” bukan lagi dua orang, tetapi satu kampung!




Sakinah Tidak Datang Bersama Buku Nikah, tetapi Harus Diperjuangkan


Setiap pasangan tentu mendambakan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Namun keluarga sakinah bukan hadiah otomatis yang langsung diterima bersama buku nikah. Ia harus dibangun setiap hari melalui salat, doa, rezeki yang halal, komunikasi yang baik, kesetiaan, kesabaran, saling memaafkan dan kesediaan memperbaiki diri. Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” (HR. Tirmidzi).Ukuran kebaikan seseorang dengan demikian bukan hanya terlihat ketika ia tersenyum ramah di luar rumah, tetapi juga bagaimana akhlaknya ketika berada bersama keluarga. Jangan sampai di luar rumah terkenal murah senyum, tetapi begitu sampai rumah wajah berubah seperti petugas sedang memeriksa berkas! Rumah seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk menghadirkan salam, senyum, doa, musyawarah dan kasih sayang.


Pernikahan pada akhirnya bukan sekadar mempertemukan dua orang, tetapi mempertemukan dua keluarga, dua karakter, dua kebiasaan dan dua perjalanan hidup untuk diarahkan menuju satu tujuan: mencari keridaan Allah SWT. Kepada Riduan Pal dan Arifa Nabila, semoga akad yang telah terucap menjadi awal kehidupan yang penuh keberkahan. Semoga Allah memberikan ketenteraman dalam rumah tangga, melimpahkan kasih sayang, memberikan rezeki yang halal dan berkah, menganugerahkan keturunan yang saleh dan salehah, serta menjadikan keduanya pasangan yang saling menguatkan dalam kebaikan hingga menuju surga-Nya.


“Menikah bukan mencari pasangan yang tidak memiliki kekurangan, tetapi menemukan seseorang yang bersedia bersama-sama memperbaiki kekurangan, mensyukuri kelebihan, dan berjalan menuju Allah dalam suka maupun duka.”


"Baarakallahu lakumaa wa baaraka ‘alaikumaa wa jama‘a bainakumaa fii khair".

Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Oleh: Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.

KUA TAPAKTUAN, Aceh Selatan

Komentar
Baca juga
katapoint.id, All rights reserved. | Designed By Rifal Agustiar